‘’ 4
( empat )Macam Kedudukan Anak Menurut Pengabaran Al Qur'an ‘’
Bismillahirrohmanirrohiim....
Wahai muslimah yang nantinya akan bergelar menjadi seorang ibu. Bekalilah dirimu dengan iman,ilmu dan amalan yang baik. Agar indahnya setiap belaianmu kepada putra putrimu menjadikan mereka manusia-manusia yang berguna baik di dunia terlebih lagi di akherat nanti. Menjadikan mereka manusia-manusia penebar aroma surgaNya. Jangan biarkan mereka mengotori bumi ini dengan kekejian yang membuka pintu neraka.
La Illaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin.
Robbi Habli Minassholihin Ya Rabb.. Aamiin. Melihat tingkah laku anak-anak memang menggemaskan (terutama yang masih BALITA). Mereka lugu tanpa dosa. Mempunyai anak-anak adalah dambaan dan kebanggan setiap orang tua (bener apa betul ya :D) . Mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya, buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, pelindung orang tua terutama ketika mereka sudah dewasa dan orang tua sudah berusia lanjut. Namun, tidak bisa dipungkiri kenyataan hidup di dunia ini bahwa ada juga anak-anak yang malah membuat orang tuanya sengsara baik di dunia dan bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. Na'udzubillah (-Ya Rabb, Jauhkanlah hal ini-). Tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka tentunya (termasuk aku sendiri) mendambakan dan mengharapkan anak-anakku kelak bisa membahagiakanku, menjadi penyejuk hati dan mata baik dunia terlebih lagi ketika aku sudah tidak ada di dunia ini. Maka ingatlah selalu pesan dari kekasihnya Allah, yaitu Rasul kita yang mulia, Rasulullah Muhammad Shallahu 'alaihi wasallam..
"Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan ter-sesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan Sunnahku (Al Hadits). Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga)." Di dalam Al Qur'an diterangkan 4 macam kedudukan anak dalam hubungannya dengan orang tua.
Simak baik-baik pengabaran Al Qur'an berikut ini:
1. Ada di Q.S. At Taghaabun ayat ke 14:
Bismillahirrohmanirrohiim....
Wahai muslimah yang nantinya akan bergelar menjadi seorang ibu. Bekalilah dirimu dengan iman,ilmu dan amalan yang baik. Agar indahnya setiap belaianmu kepada putra putrimu menjadikan mereka manusia-manusia yang berguna baik di dunia terlebih lagi di akherat nanti. Menjadikan mereka manusia-manusia penebar aroma surgaNya. Jangan biarkan mereka mengotori bumi ini dengan kekejian yang membuka pintu neraka.
La Illaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin.
Robbi Habli Minassholihin Ya Rabb.. Aamiin. Melihat tingkah laku anak-anak memang menggemaskan (terutama yang masih BALITA). Mereka lugu tanpa dosa. Mempunyai anak-anak adalah dambaan dan kebanggan setiap orang tua (bener apa betul ya :D) . Mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya, buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, pelindung orang tua terutama ketika mereka sudah dewasa dan orang tua sudah berusia lanjut. Namun, tidak bisa dipungkiri kenyataan hidup di dunia ini bahwa ada juga anak-anak yang malah membuat orang tuanya sengsara baik di dunia dan bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. Na'udzubillah (-Ya Rabb, Jauhkanlah hal ini-). Tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka tentunya (termasuk aku sendiri) mendambakan dan mengharapkan anak-anakku kelak bisa membahagiakanku, menjadi penyejuk hati dan mata baik dunia terlebih lagi ketika aku sudah tidak ada di dunia ini. Maka ingatlah selalu pesan dari kekasihnya Allah, yaitu Rasul kita yang mulia, Rasulullah Muhammad Shallahu 'alaihi wasallam..
"Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan ter-sesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan Sunnahku (Al Hadits). Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga)." Di dalam Al Qur'an diterangkan 4 macam kedudukan anak dalam hubungannya dengan orang tua.
Simak baik-baik pengabaran Al Qur'an berikut ini:
1. Ada di Q.S. At Taghaabun ayat ke 14:
" Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya
di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi
serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang"
2. Ada di Q.S. Al Anfaal ayat
ke 28:
" Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar".
3. Ada di Q.S. Al Kahfi ayat ke 46:
" Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar".
3. Ada di Q.S. Al Kahfi ayat ke 46:
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan
kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."
4. Ada di Q.S Al Furqaan ayat ke 74 :
4. Ada di Q.S Al Furqaan ayat ke 74 :
"Dan
orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa" Dari keempat ayat tersebut di atas dapat disimpulkan
bahwa anak-anak bisa sebagai 'Aduwwun= musuh orang tuanya, bisa juga sebagai
Fitnatun= fitnah/cobaan, bisa pula sebagai ziinatun= hiasan untuk kedua orang
tuanya dan bisa pula berkedudukan sebagai Qurrata a'yun= penyejuk hati kedua
orang tua. Aku yang belum mempunyai darah daging sendiri (ya
karena memang belum menikah :p) atau -kalian semua para pembaca- pasti pernah
atau bahkan sering diperlihatkan, ditampakkan oleh yang Maha Kuasa betapa
ayat-ayat Allah itu terbukti dalam alam kehidupan manusia. Bener gak? Bahkan
ada pelajaran kehidupan yang menyangkut hal ini terjadi di keluarga kita
masing-masing. Kenyataan kehidupan menunjukkan bahwa tidak sedikit
anak yang berseteru dengan orang tuanya, misalnya orang tua yang diperkarakan
oleh anaknya akibat perebutan harta warisan, anak yang menuntut hal berlebihan
diluar kesanggupan orang tuanya bahkan sampai membunuh, Na'udzubillah tsumma
na'udzubillah. Ada juga contoh yang lagi "musim" sekarang diberitakan
oleh media cetak ataupun elektronik tentang tawuran para pelajar sampai ada
yang meregang nyawa, Ya Allah miris aku melihat berita seperti itu. Ada juga
anak yang lebih mencintai kekasihnya ketimbang aqidahnya sehingga dengan mudah
ia menggadaikan agamanya, Innalillahi. Jika sudah begini bukan saja menyiksa
orang tua di dunia tapi tentunya akan sampai perhitungannya di akherat sana.
Sering terlihat olehku orang tua yang merasa puas dan bangga ketika melihat
anaknya sukses menapaki karik kehidupan dunia, harta melimpah ruah namun
anak-anaknya jauh dari nilai-nilai agama. Kebanggaan orang tua yang seperti itu
tidaklah hakiki. Benar bahwasannya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
senda gurau -"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan
sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka
mengetahui"- (Terjemah Q.S. Al-'Ankabut ayat ke 64). Berbagai macam contoh nyata tampak dihadapan. Namun
tak jarang pula aku temui orang tua yang sangat beruntung dan berbahagia
memiliki anak-anak yang tetap dalam nilai-nilai agama. Mereka penyejuk kedua
orang tuanya, penentram hati ibu dan bapaknya. Merekalah yang dikabarkan Al
Qur'an sebagai Qurrata A'yun. Walaupun harta melimpah tapi tak melupakan kewajibannya
sebagai hamba Allah. Bisa dikatakan hal itu dijadikan mereka sebagai jembatan
dan bekal hidup di akherat nanti. - Beruntungnya mereka yang memiliki anak-anak
seperti ini, Robbi habli minassholihin Ya Rabb, Aamiin-. Ada juga yang dihimpit
"sempitnya" kehidupan tapi mereka tetap bersabar dan terus mensyukuri
nikmat dari Allah. Tentunya para pembaca pasti menemui, melihat atau
bahkan merasakan anak-anak sebagai Qurrata 'ayun’ , bersyukurlah dan teruslah
tambah rasa syukurmu, mudah-mudahan Allah melipatkan banyak kebaikan untuk anda
semua yang berhasil mengantarkan anak-anak untuk menjadi Qurrata A'yun tidak
hanya di dunia tapi bekal untuk di akherat nanti. Sudah sampaikah kepada para
pembaca pesan baginda rasul berikut ini:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
(HR. Muslim ).’’ Mengapa dalam hadits ini dicontohkan do’a anak yang sholeh karena dialah yang bakal selalu ingat pada orang tuanya dimana orang-orang lain telah melupakan ibu dan bapaknya. Sedangkan anak yang tidak pernah atau tidak mau mendo’akan orang tuanya yang telah wafat itu berarti tidak termasuk sebagai anak yang sholeh. Jangan lupa ajarkan anak-anak kita sedini mungkin do'a untuk kedua orang tua. Jangan biarkan mereka tidak mengenal do'a ini. Sekali lagi -walupun aku belum punya anak :D- mendidik anak-anak tentunya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, butuh keikhlasan, butuh keilmuan, dan lain sebagainya. Dan muara dari semua itu adalah hanya kepada Allah kita berserah diri, hanya kepada Allah kita memohon dan meminta segala sesuatu, hanya kepada Allah kita semua menyerahkan segala urusan. Jika terlanjur kita khilaf mendidik anak-anak baik sengaja ataupun tidak sengaja tidak berada dalam koridorNya maka bersegeralah menuju ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa" (Terjemah Q.S. Ali Imran ayat ke 133).’’ Jika para pembaca belum menikah (-seperti aku ini- :p) atau yang sudah menikah tapi belum dikaruniai anak atau... yang sedang menanti kelahiran sang buah hati? Mariiiiiiiii kita perbanyak menimba ilmu disamudera kehidupan , persiapkan bekal terbaik untuk anak-anak kita. Hmm..berbicara bekal hidup, aku jadi teringat pesan ustadzku -yang dulu- memberikan wejangan, beliau berpesan:"siapkanlah bekalmu dewi dengan baik dan ingat sebaik-baik bekal adalah TAQWA -Watazawwadu Fainna Khoiroz Zaadit Taqwa-. Aku pikir indah sekali pesan beliau (maksudnya kata-kata beliau itu) dan ternyata ini ada ayatnya di Al Qur'an surah Al Baqarah ayat ke 197. Allahu Akbar!!! Maka Wahai diri dan para pembaca sekalian, janganlah berjauhan dari Al Qur'an dan Sunnah. Jika kau berjauhan bahkan sampai meninggalkannya maka yakinlah kau akan TERSESAT dan akan berbuah PENYESALAN tidak hanya di dunia saja tapi akan sampai ke akherat nanti!!!. Banyak ayat-ayat di Al Qur'an yang mengabarkan penyesalan orang-orang dahulu yang tidak beriman kepada Allah. Tulisan ini kubuat sebagai pengingat diri, nasehat diri. Sungguh akupun bukanlah hamba Allah yang tak luput dari dosa. Aku hambaNya yang penuh dosa yang terus berharap terus -sampai detik nafas terakhir- maghfirahNya T_T. Ridho Allah, Ridho orang tua serta Ridho suamiku -nanti- yang aku dambakan . Ya Rabb, jadikanlah aku Qurrata A'yun untuk kedua orang tuaku, untuk kedua saudaraku, untuk suamiku -nanti-. Jadikanlah aku umi yang sholeha untuk para zurriyatku. Anugerahilah pula aku zurriyat (keturunan) yang sholeh dan sholeha yang mau dan mampu menjadi penyejuk mataku di dunia dan akherat. Bimbing langkah dan lisanku Ya Allah untuk menjadi madrasah pertama dan terbaik untuk para zurriyatku, untuk keluargaku, untuk saudara/i-ku seaqidah Hanya Engkau Yang Maha Mengerti segala kebutuhanku. Maka cukupkanlah semua itu hanya dari diriMu Wahai Rabbku yang penuh kasih sayangnya. Istajib du'a ana Ya Latif. Aamiin.
----"Ya Allah, bukakanlah hikmah-Mu bagiku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan ingatkanlah aku pada apa yang telah aku lupakan dan lalaikan, wahai Tuhan Pemilik Keperkasaan dan Kemuliaan"
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
(HR. Muslim ).’’ Mengapa dalam hadits ini dicontohkan do’a anak yang sholeh karena dialah yang bakal selalu ingat pada orang tuanya dimana orang-orang lain telah melupakan ibu dan bapaknya. Sedangkan anak yang tidak pernah atau tidak mau mendo’akan orang tuanya yang telah wafat itu berarti tidak termasuk sebagai anak yang sholeh. Jangan lupa ajarkan anak-anak kita sedini mungkin do'a untuk kedua orang tua. Jangan biarkan mereka tidak mengenal do'a ini. Sekali lagi -walupun aku belum punya anak :D- mendidik anak-anak tentunya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, butuh keikhlasan, butuh keilmuan, dan lain sebagainya. Dan muara dari semua itu adalah hanya kepada Allah kita berserah diri, hanya kepada Allah kita memohon dan meminta segala sesuatu, hanya kepada Allah kita semua menyerahkan segala urusan. Jika terlanjur kita khilaf mendidik anak-anak baik sengaja ataupun tidak sengaja tidak berada dalam koridorNya maka bersegeralah menuju ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa" (Terjemah Q.S. Ali Imran ayat ke 133).’’ Jika para pembaca belum menikah (-seperti aku ini- :p) atau yang sudah menikah tapi belum dikaruniai anak atau... yang sedang menanti kelahiran sang buah hati? Mariiiiiiiii kita perbanyak menimba ilmu disamudera kehidupan , persiapkan bekal terbaik untuk anak-anak kita. Hmm..berbicara bekal hidup, aku jadi teringat pesan ustadzku -yang dulu- memberikan wejangan, beliau berpesan:"siapkanlah bekalmu dewi dengan baik dan ingat sebaik-baik bekal adalah TAQWA -Watazawwadu Fainna Khoiroz Zaadit Taqwa-. Aku pikir indah sekali pesan beliau (maksudnya kata-kata beliau itu) dan ternyata ini ada ayatnya di Al Qur'an surah Al Baqarah ayat ke 197. Allahu Akbar!!! Maka Wahai diri dan para pembaca sekalian, janganlah berjauhan dari Al Qur'an dan Sunnah. Jika kau berjauhan bahkan sampai meninggalkannya maka yakinlah kau akan TERSESAT dan akan berbuah PENYESALAN tidak hanya di dunia saja tapi akan sampai ke akherat nanti!!!. Banyak ayat-ayat di Al Qur'an yang mengabarkan penyesalan orang-orang dahulu yang tidak beriman kepada Allah. Tulisan ini kubuat sebagai pengingat diri, nasehat diri. Sungguh akupun bukanlah hamba Allah yang tak luput dari dosa. Aku hambaNya yang penuh dosa yang terus berharap terus -sampai detik nafas terakhir- maghfirahNya T_T. Ridho Allah, Ridho orang tua serta Ridho suamiku -nanti- yang aku dambakan . Ya Rabb, jadikanlah aku Qurrata A'yun untuk kedua orang tuaku, untuk kedua saudaraku, untuk suamiku -nanti-. Jadikanlah aku umi yang sholeha untuk para zurriyatku. Anugerahilah pula aku zurriyat (keturunan) yang sholeh dan sholeha yang mau dan mampu menjadi penyejuk mataku di dunia dan akherat. Bimbing langkah dan lisanku Ya Allah untuk menjadi madrasah pertama dan terbaik untuk para zurriyatku, untuk keluargaku, untuk saudara/i-ku seaqidah Hanya Engkau Yang Maha Mengerti segala kebutuhanku. Maka cukupkanlah semua itu hanya dari diriMu Wahai Rabbku yang penuh kasih sayangnya. Istajib du'a ana Ya Latif. Aamiin.
----"Ya Allah, bukakanlah hikmah-Mu bagiku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan ingatkanlah aku pada apa yang telah aku lupakan dan lalaikan, wahai Tuhan Pemilik Keperkasaan dan Kemuliaan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar